Kisah ini dari kisah seorang ikhwan temannya teman saya di daerah sumatera sana.
Dia seorang ikhwan tampan idola para akhwat, dari fisik dikatakan nyaris tanpa cacat seperti Nabi Yusuf. Seorang ketua rohis dan aktif dalam organisasi.
Tapi bukan itu yang menjadi hal utama dari kisah hidupnya yang menjadi pelajaran.
Bukan karena fisik, bukan karena ketenaran, bukan karena kepintaran, tapi karena prinsipnya menjaga diri, mata dan hatinya kepada yang belum halal terutama kepada akhwat-akhwat yang mengejar-ngejarnya.
Bukan karena fisik, bukan karena ketenaran, bukan karena kepintaran, tapi karena prinsipnya menjaga diri, mata dan hatinya kepada yang belum halal terutama kepada akhwat-akhwat yang mengejar-ngejarnya.
Diceritakan dia membuat aturan hidupnya dalam komunikasi kepada lawan jenis. Dia tidak akan
membalas pertanyaan akhwat yang tidak penting, dia juga akan tegas tidak ada komunikasi dengan akhwat diatas jam 21.00,.
Ada kisah menarik yang diceritakan teman saya, ada seorang akhwat yang juga sangat cantik dan semangat dalam organisasi tapi ternyata akhwat tersebut juga jatuh cinta pada ikhwan ini, menjadikan si akhwat sering menghubungi ikhwan dan mencari perhatian.
Pada suatu rapat, si akhwat kesal dan berbicara di depan forum,,, "akhii, antum ini gimana yaa, tidak menghargai akhwat ketika menghubungi antum untuk bertanya tidak antum tanggapi.." Sang ikhwan ini terdiam, menarik nafas dan menjawab.. "Sekarang ana bertanya, anti bertanya apa kepada ana malam-malam??? Pertanyaan yang tidak penting, anti menanyakan apakah ana sudah shalat atau belum?? Anti bertanya tentang hal yang memang tidak perlu diingatkan lagi karena itu urusan ana kepada Allah... Dan afwan ana tidak akan menjawab pertanyaan tidak penting dan di atas jam 21.00..." Ujarnya sambil emosi... Sang akhwat menjadi terdiam dan malu.
Dia juga tidak banyak mengkonfirm pertemanan dengan akhwat di media sosial dan tidak saling berkomentar tidak penting dengan akhwat di media sosial.
Ikhwan ini pula mengajarkan bahwa bersabar dan menerima keadaan itu indah. Pernah dia kehilangan ponselnya, sehingga banyak yang sulit menghubungi. Ketika pada perkumpulan, teman-temannya marah kepadanya dan mengatakan dia sulit untuk diajak berkoordinasi karena sulit dihubungi padahal mereka tidak tau bahwa ponsel ikhwan ini hilang... Ikhwan ini menjawab semua keluhan temannya, "afwan ... Bukannya ana sulit berkoordinasi tapi karena ada sesuatu hal. Heummm Alhamdulillah, mungkin ini teguran buat ana dari Allah." Ujarnya.
"Teguran gimana akh?" Tanya teman-temannya
"Hmm iyaa Alhamdulillah, mgkn ini agar ana harus bersyukur lagi sama Allah..." Ujarnya
"Maksudnya gmn akh??" Tanya teman-temannya yang semakin penasaran.
"Iyaa , Alhamdulilah ada suatu kejadian yang Allah takdirkan menjadi pelajaran buat ana. Ponsel ana sudah berpindah kepemilikan..." Ujarnya
"Maksdnya ponsel antum hilang akh??" Tanya teman-temannya memastikan
"Iyaa... Alhamdulillah" ujarnya
"Kalau antum mau, antum pakai saja ponsel ana..." Ujar seorang akhwat yang mengidolakan ikhwan tersebut sambil menyodorkan ponselnya di balik papan hijab.
"Afwan ukh, bukannya ana nolak rezeki dan pemberian anti. Tapi ana tidak mau ada pemberian yang mengantarkan ana kepada fitnah tertentu.." Ujar si ikhwan menolak ponsel pemberian akhwat
Kejadian ini bukan menyakiti akhwat tapi malah menjadikan akhwat-akhwat semakin mengidolakannya.
Dia bisa menempatkan posisi tegas dan mengatur emosi dengan cara santai. Tiap kali dia marah kepada akhwat-akhwat yang kegenitan dia selalu terdiam terlebih dahulu dan berkata dengan santai. Dia bingung menyikapi akhwat-akhwat, ketika dia berbuat baik dibilang memberi harapan ketika dia bersikap tegas para akhwat semakin mengidolakan...
Pernah juga ada seorang akhwat kehilangan sandal. Kemudian sang ikhwan berkata "anti pakai saja sandal ana, kasian kakinya kepanasan jika tidak pakai sandal."
Esoknya jadi ramai, karena si akhwat bahagia mengira si ikhwan ada hati dengan akhwat itu dan mengirimi pesan ke ikhwan tsb "afwan akh, ana tidak tau kalau selama ini antum ada hati sama ana..."
Si ikhwan terdiam dan menjelaskan bahwa dia tidak ada hati dengan siapapun, jika dia ada hati dengan seorang akhwat biarlah hanya Allah yang tau katanya.
Selain karena sikapnya yang menjaga terhadap akhwat, ikhwan ini juga sangat berhati mulia.
Dia pernah menggendong dan menangis ketika ada anak kecil yang mengemis di jalan.
Selain itu prinsipnya akan mengedepankan kewajiban sangat tinggi. Jabatannya sebagai ketua rohis menjadikan dia sering dipanggil untuk menjadi moderator, dsb. ketika sudah waktu shalat tiba dia akan menghentikan acara dan berkata "afwan, lebih baik kita shalat dulu, jangan sampai kita mendahulukan yang sunnah dibanding yang wajib." Maka acaranya pun ditunda.
Atau ketika dia menjadi peserta dan acara masih berjalan ketika waktu shalat tiba maka dia berdiri dan mengintrupsi untuk shalat dulu atau mengajak pemateri untuk shalat jama'ah atau meminta izin untk dia shalat terlebih dahulu.
Memang jarang ada ikhwan seperti ini tapi kita bisa mengambil pelajaran dan menjadikan kita seperti sifatnya..
Masih banyak yang diceritakan teman saya, diantaranya pula dia pernah membayarkan ongkos teman-temannya tanpa sepengetahuan mereka. Membantu tiap acara padahal ikhwan lain memilih istirahat. Menutupkan wajahnya dengan topi ketika berbicara dengan akhwat dan tidak memandang akhwat. Semua akhwat baik yang cantik atau yang biasa diperlakukan sama tegas tidak ada yang diistimewakan...
Ketika yang lain sibuk berfoto-foto atau yang lainnya maka dia memilih duduk di pojok untuk tilawahan.
Sikapnya yang menjaga dikatakan adalah demi memuliakan akhwat dan penjagaan bersama. Sikapnya yang tegas, tidak mencari perhatian bahkan sering menegur akhwat yang salah tidak membuatnya dijauhi para akhwat bahkan menjadikan para akhwat semakin dan semakin mengidolakannya. Dikatakan ikhwan ini memang bagaikan Nabi Yusuf di zaman modern.
Diakhir cerita teman saya dan disaat meminta izin untuk menuliskan kisahnya di blog ini, teman berdoa 'semoga kita nanti diberikan suami seperti ikhwan tersebut' saya mengamini dan berfikir; bukankah jodoh itu cerminan diri sendiri? Apakah diri ini sudah seperti ikhwan tersebut sehingga pantas bersanding dengan seseorang sepertinya.
Cukup senang belajar banyak dari kisahnya, bisa tidak kita seperti ini, Menjaga hati kita cukup mencintai Allah sepenuh hati sebelum datang kehalalan sang pujaan hati.
Oleh : Sa'adah Ali Kaffah
Sumber gambar : meizie93.daviantart.com