Senin, 12 Maret 2012

”Gue Bukan Pencuri”


Terobosan di lorong kontainer kereta pagi itu, memecahkan keramaian dan keserambutan penumpang,..
“Berhenti woiii,... “ teriak seorang bapak-bapak tua sambil mengejar seorang anak kecil yang memegang tumpukan koran-koran pagi,..
“Berhenti,... !!!!” suaranya makin pecah dalam tatapan keramaian para penumpang yang terheran-heran,..
Dengan sergap tubuh kecil yang bisa dikatakan tukang koran bekas itu kini dalam cengkraman kuat bapak tua bertubuh besar,..
“Lepasin gue,.. lepasin,.. sakit,..  !!!” jerit anak lelaki kecil itu,.
“Mana duit tadi??? Sini kembalikan duitnya,..  “ ujar bapak-bapak itu,.
“Itu duit gue,.. enak aja ngaku-ngaku,.. itu punya gue,.. “ ujar anak kecil itu,.
“alaahhh,.. dasar kecil-kecil tukang boong,. Mana mungkin loe punya duit sebanyak itu,.. loe nyopetkan???” tanya bapak itu.
“Sakittt,.. lepasin gue,.. gue gak nyuri,..” keluh anak kecil yang merintih kesakitan terlihat dari raut wajahnya.
“Mana duitnya, dimana,.. “ ujar bapak itu sambil merogoh dan menggeledah kantong dan tas anak kecil itu.
“Jangan pak,.. itu duit gue,.. jangan diambil,.. jangan pak,.. lepasin pak” ujar anak kecil yang terlihat memelas kepada bapak itu,..
Di gerbong kereta api yang masih melaju dengan kecepatan tinggi tidak mampu menahan ledakan tangis anak kecil itu, para penumpang yang lain hanya mampu melihat adegan dramatis bapak tua yang menggeledah tas anak itu,.. pagi itu semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak ingin mengambil pusing apa yang terjadi di depan mata mereka,.. begitupun aku yang tengah duduk di pojok,.. aku tidak bisa melakukan apa-apa hanya dapat memandang dan bertanya-tanya dalam hati ‘mungkin anak kecil itu pencopet kali yaa dan bapak itu keamanan disini,..’ mudah-mudahan jadi pelajaran untuk anak kecil itu,..
“pak itu duit gue,.. jangan diambil,..” ujar anak itu sambil meminta kembali duit yang kini telah ada di tangan bapak itu.
“Gue lepasin loe,.. lain kali jangan lakuin lagii,. Sekarang duit ini gue tahan,.. “ ujar bapak itu berjaket kulit hitam laksana polisi,...
“Tapi pak,.. itu duit gue,.. loe ngambil duit gue,..” merengek anak kecil itu,.
“Alaahh,..  sana loe pergi, masih untung loe gue gak laporin polisi..” ujar bapak tua sambil menjatuhkan tubuh anak kecil dan meninggalkannya yang terjatuh duduk.
Anak kecil itu kembali berdiri dan berjalan berlawanan arah dari bapak itu sambil tertunduk,..
“Ishhh,.. kecil-kecil kuq nyopet yaa,.. gak ngaku lagii,..” bisik para penumpang.
“Masih untung dilepasin,. Aturan ditangkap aja tuh biar kapok,..” bisik penumpang yang lain.
Anak kecil itu hanya terus berjalan menelusuri gerbong kereta api, sambil tertunduk, di pojok gerbong, dia berjongkok, dan menutup mukanya,.. mungkin karena malu akan tindakannya yang tidak baik dan menjadi bahan pembicaraan penumpang lain di gerbong pagi itu,..
Kereta belum juga sampai di stasiun tujuanku,.. selama perjalanan aku memperhatikan anak kecil yang masih tertunduk, sesekali terlihat bahunya bergetar,..
Aku menjadi iba, walaupun tindakannya salah tapi dia hanya anak kecil,.. walau harus ditindak tegas tapi aku tidak tega melihatnya,..
Aku pun memutuskan untuk membatalkan perjalanan liburanku kali ini,..
-----
Kereta berhenti sejenak di satu stasiun sebelum stasiun tujuanku,.. anak kecil itu berdiri dan berlari ke pintu gerbong kereta dan menghilang diantara kerumunan penumpang yang turun,..
Entah mengapa kakiku berlari keluar ingin mengejarnya,..
Dan ikut bersama mencair dalam gerombolang penumpang yang turun,.
----
Kini aku berada di luar gerbong kereta, aku turun bukan di stasiun tujuanku, mataku berbolak balik mengintai sekitar dan mencari sebongka tubuh yang selama perjalanan tadi kuperhatikan namun ternyata nihil,..
Aku berjalan sedikit demi sedikit sambil terus memperhatikan sekitarku, tepat di arah belakangku aku menemukannya tengah memberikan tumpukan koran bekas yang dipegangnya kepada seorang ibu-ibu yang tengah tidur di emperan stasiun,..
Anak kecil itu berdiri dan berjalan kecil, menyeret-nyeret sandal jepitnya yang usang dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya, dan kembali tertunduk,..
Aku pun memutar arah tubuhku, berlari kecil menghampirinya,.. langkahku terhenti, saat anak kecil itu duduk di salah satu bangku panjang stasiun dan kembali tertunduk,.. aku hanya bisa berdiri sebentar tak berapa jauh darinya,.. dan hatiku makin luluh melihat ada butiran air yang jatuh dari matanya,.. dari selipan rambutnya yang hitam dan tak terurus kulihat wajahnya memerah, bahunya begetar,..
Aku ayuhkan satu langkahku ke depan, anak kecil itu menghapus air matanya dan kembali tertunduk,.. kini aku dapat duduk di sampingnya, tapi tak mampu berbuat apa-apa,.. aku keluarkan sapu tangan dari tasku,..
“Dek,.. ini hapus air matamu,..” ujarku sambil menyodorkan sapu tangan ke arahnya.
“Ihhh siapa yang nangis,.. “ ujarnya yang masih tertunduk sambil mengucek-ngucek matanya.
“Tuh kenapa matanya dikucek-kucek gitu??” candaku yang berharap dapat segera dekat dengannya.
“Aku kelilipan,.. jangan sok tau deh loe” serunya sambil membesarkan bota matanya yang terlihat berkaca-kaca dan berwarna kemerahan ke arahku.
“Iyaa deh kelilipan,.. “ ujarku sambil tersenyum.
“Kalau boleh tau kamu siapa?? Kuq gak sekolah??” tanyaku kepadanya.
“Gimana mau sekolah, gue gak punya biaya bang,..” keluhnya jujur kepadaku.
“Ibu ayah kamu kemana??” tanyaku kembali,..
Sambil tertunduk, anak kecil itu berkata “Ibu ma ayah gue dah tenang sekarang, mereka gak akan capek lagi, mereka gak akan nangis lagi tiap hari liat gue dan adik gue yang terkadang susah dapat makan, mereka gak akan peduli ma kita lagi, dan gue bersyukur gak akan nyusahin mereka lagii di kebahagiaannya disana,..”
Sambil berlaga lugu, aku bertanya pelan “Maksud kamu apa??”
“Mereka dah meninggal.” Ujarnya singkat
“Maaf,.. saya tidak tau,..” ujarku merasa bersalah.
“Iya gak apa-apa bang,..” jawabnya kembail tertunduk sambil memainkan sandal jepitnya.
“Hemmm,.. tadi saya ada di gerbong yang sama dengan kamu,.. apa benar kamu mencuri??” tanyaku penasaran.
“Gue tau bang gue miskin, gue tau gue gak punya siapa-siapa selain adik gue yang lagi sekolah sekarang, gue tau betapa susahnya cari duit, sering gue pikir untuk mencuri karena kepepet tapi setiap kali gue mau mengambil dompet orang gue selalu takut bang,.. gue gak mencuri !!” serunya gegas kepadaku.
“Abang wartawan yaa nanya2 terus,..” katanya sambil berdiri dan hendak bangun.
“Eh bukan kuq, saya takut salah nuduh aja,.. jika benar kamu tidak mencuri, kenapa bapak itu mengejar kamu dan mengambil uang dari kamu dan dia bilang kamu mencuri...”
“Itu duit gue, duit jualan koran bekas ibu itu (sambil menunjuk ke arah ibu tadi yang sekarang telah terbangun dan melihat ke arah kami),. Bapak tadi itu preman yang biasanya malakin secara maksa,.. itu duit gue, duit makan hari ini,.. gue dah janji ma adik gue bakalan makan banyak hari ini,.. gue gak nyuri,.. ibu ma ayah gue gak pernah ngajarin gue nyuri,. Dan gue gak mau beban mereka berat jika gue nyuri,.. gue gak nyuri bang, tapi dia yang dah nyuri duit gue.. “ ujarnya membela dan kembali kulihat matanya yang berkaca-kaca menumpahkan air mata yang sejak tadi dibendungnya.
Dia berjalan menjauhiku, aku memegang tangannya menghentikan langkahnya yang tertunduk malu,..
“Gue gak apa-apa, lepasin bang,..” ujarnya sambil melepaskan tangannya yang ada di genggamanku.
“Maafin saya yaa,.. ini ada sedikit untuk kamu dan adik kamu,..” ujarku sambil menyodorkan beberapa lembar uang untuknya.
“Gue bukan pengemis bang,..” ujarnya sambil menolak uangku.
“Ini hadiah untuk kamu,..” ujarku memaksa.
“Maaf bang,...” ujarnya sambil berjalan.
“Kamu mau kemana??” tanyaku sambil mengikutinya dari belakang.
“Gue belom dhuha...” ujarnya.
Langkahku terdiam, anak kecil kusam di depanku, rambut yang tidak terurus tapi tak kusangka ibadah sunnah dia masih berusaha menunaikannya, aku terpaku,.. terkagum...
“Gue gak nyuri karena mencuri itu gak disukai Allah,..” teriaknya sambil tersenyum kepadaku dari jauh...
Aku tersenyum melihat senyum indah yang baru pertama kulihat dari seorang anak kecil yang bersandal jepit tipis dan rusak.
----
“Dia salah satu anak jalanan yang yatim piatu, penjual koran, tidak pernah merasakan sekolah, tapi dia berusaha kerja mencari uang untuk makan dia dan adiknya dan untuk menyekolahkan adiknya yang sekarang kelas 1 SD,..” ujar ibu-ibu yang diberikan koran tadi oleh anak kecil itu.
“Dia kerja apa aja ibu??? Padahal dia masih sangat kecil...” tanyaku sedih kepada ibu itu.
“Tiap pagi dia jualan koran bekas, ibu yang mengumpulkannya dari agen koran di seberang jalan. Siangnya dia serabutan, terkadang jadi penyemir sepatu jika dapat pinjaman semir, terkadang jualan makanan dan minuman dagangan orang lain, terkadang jadi kenek angkutan umum, apa aja yang ada siang itu, tapi dia tidak suka mengamen bahkan mengemis,..” cerita ibu tua itu.
“Dia terkadang juga membersihkan musholah yang ada di jalanan atau stasiun, dari pekerjaan ini ada yang memberinya sedikit uang untuknya,..” cerita ibu itu kembali.
“Ibu titipkan ini untuknya,.. saya ingin sedikit membantunya.” Ujarnya memohon sambil memberikan uang yang tadi ingin kuberikan kepada anak kecil itu.
“Aduh dek,.. dia juga gak mau terima uang yang gak jelas dan dia gak kenal dari siapa-siapa kecuali dia bekerja dengannya... terkadang ibu yang dikasih uang ma dia dek, dia bilang dapat lebih jadi suka berbagi ma ibu dek,..” cerita ibu itu bersemangat sambil terlihat bahagia menceritakan anak itu.
“Ibu,.. jika ibu berkenan,.. ibu terima saja uang ini, saya akan merasa bersalah jika tidak diterima,.. saya telah salah menilainya di gerbong tadi,.. sampaikan maaf saya juga ke adik kecil itu.. “ ujarku yang kini aku tak dapat membendung air mata sendiri.
“Iya dek kalau gitu nanti ibu coba kasih dan jelaskan ke Rohim yaa,..” ujar ibu itu sambil menepuk pundakku yang begetar.

Si kecil yang baru kutau namanya, Rohim,.. Telah membuat hati ini terketuk betapa sabar dan tabahnya dia menjalani kehidupannya,..
Aku hanya bisa berdoa ,.. ya Allah, jagalah terus keimanannnya dan keistiqomahannya dalam terus menjalankan apa yang Kau perintahkan dan menjauhi apa yang Kau larang,.. jauhilah dia dari aksi-aksi kejahatan dan usaha kristenisasi berkedok kegiatan sosial yang kini marak,..
Rohim telah banyak memberikan pelajaran akan indahnya kesabaran dan keteguhan kepadaku pagi itu,..

sumber foto : www.google.com 
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan pesan dan sarannya... ^^