Sedikit ingin membahas tentang issu yang
menggonjang ganjing suatu parpol dengan kapeka..
ironi memang, bak gajah melawan semut..
mereka yang diluar struktur kelompok gajah
atau semut ini akan menilai bahwa gajahlah adikuasa, pemenang dan sang kuat
yang tak terkalahkan..
dengan gagah berani datang mengobrak-abrik
sarang semut, menginjak-injak penduduknya, dan memusnahkan tak bersisa..
dengan angkuh sang gajah berujar
"siapa yang berani lawan gue lagi??"
mungkin sang gajah mempunyai dua prinsip
dalam hidup:
1. gajah selalu benar dalam bertindak
2. bila gajah salah, maka kembali ke point
1
inilah realita dalam kasat mata orang
luar,
tapi tidak tau kah kita??
gajah dan semut adalah hewan yang
dikaitkan dengan jari jempol dan kelingking pada permainan untuk mengundi siapa
yang menang dan kalah sewaktu kita kecil hingga saat ini, bukan?? lantas bila
hanya mengandalkan fisik sebagai penilaian siapa yang kuat, pasti dalam
permaian "suwit" tersebut, jempol yang diibaratkan dengan gajah akan
menang dengan kelingking yang digambarkan sebagai "semut". tapi
nyatanya bukan, bukan seperti itu. kelingking lah yang menang bila bertemu
jempol.
usut punya usut, aku yang dulu kecil
memprotes kesepakatan ini. sudah jelas2 jempol lebih besar dibanding kelingking
atau istilahnya gajah lebih kuat dibanding semut.
dengan padat dan singkat seorang teman
menjawab, jika semutnya bersatu dengan kelompoknya dan menyerang untuk
menggigit gajah, pasti gajahnya jatuh tidak berkutik.
akupun mengangguk tanda membenarkannya.
yaa seperti itulah analogi dalam kasus
ini, kasus si semut kecil (pekaes) dengan si gajah (kapeka).
seperti kita tau, bahwa semut adalah jenis
hewan berkoloni atau berkelompok, jangankan dalam urusan menuntut hak dan
keadilan yang diganggu makhluk lain, dalam urusan kewajiban mencari makan
mereka saling bahu membahu bekerja sama dengan berkelompok, bila bertemu satu
sama lain saling menyapa, bila ada yang terluka, mereka bergotong royong
membawanya ke sarang, ada ikatan hebat yang menyatukan hati semut-semut ini.
inilah makhluk yang sebenarnya kuat. kelemahan dan kekecilan tubuhnya tidak
menjadikannya mudah untuk ditindas. bila ada yang mengganggunya, mereka akan
membuat strategi untuk melawan. mereka kuat dalam barisan. tak terbayangkan
bila melawan barisan mereka. jangankan gajah yang adi kuasa, manusiapun takkan
sanggup bila menghadapi sekelompok semut yang terbangun mengamuk karena
terusik. dan bersama menyerang dalam jumlah besar.. bahkan satu gigitan semut
saja tak jarang telah membuat kita marah..
inilah yang mampu dibayangkan pada konflik
si partai kecil dengan lembaga besar tersebut.
si kapeka ini, dengan congkak bertindak
laksana tindakannya benar telah sesuai hukum, semena-mena dalam bersilat lidah
memutar balikan fakta, menggelintir opini massa, inikah kapeka sebenarnya??
menafsirkan pasal sesuai dugaannya,
menyita barang tanpa surat perizinannya, membuat strategi yang dikata benar
tapi sungguh terlihat kebodohannya.
tapi, si partai kecil suatu saat kan
menjelma menjadi sekelompok semut yang akan disegani, gigitannya tidak
menyakitkan tapi ditakutkan, keberadaannya menjadi sesuatu yang paling asyik
untuk diikuti, kekompakannya dalam barisan, keramahannya dalam persaudaraan,
dan kekuatannya dalam ukhuwah ikatan keimanan...
si “semut kecil” yang sabar tertindas,
akan terbangun bersama membuat strategi perlawanan, bukan melawan karena balas
dendam tapi melawan bila mereka kembali menerima serangan, melawan menuntut
keadilan dan hak yang didzolimkan, melawan untuk menghadirkan kebenaran dalam
tuduhan.
suatu hari kelak kebenaran akan terkuak..
si “semut kecil” akan menjadi sesuatu yang
membawa pengaruh besar. namanya akan digoreskan dalam catatan sejarah..
seperti nama semut yang tertulis dalam
Al-Qur`an yang dijadikan pelajaran..
è “Hingga apabila
mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut,
masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari" (QS. An Naml : 18)
si “semut kecil” akan menjadi sesuatu yang
disayangi dan dilindungi.
seperti Allah menetapkan hewan semut
sebagai hewan yang tidak boleh dibunuh...
è “ Diriwayatkan dari
Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah melarang kami membunuh
empat macam binatang: Semut, lebah, burung hudhud dan burung shurad.” (HR.
An-Nasa’i dan Ahmad).
teruslah bergerak walau ujian ini berat,
berat ujian menandakan Allah menguji untuk
mengangkat kedudukan atau bahkan untuk menegur karena kasih sayang-Nya pada
hamba-Nya agar mereka kan selalu dalam jalan yang benar hingga kebenaran
mencapai hari kepastian..
salam cinta, kerja, dan harmoni ^^
