Kamis, 09 Mei 2013

Gajah VS Semut



Sedikit ingin membahas tentang issu yang menggonjang ganjing suatu parpol dengan kapeka..
ironi memang, bak gajah melawan semut..


mereka yang diluar struktur kelompok gajah atau semut ini akan menilai bahwa gajahlah adikuasa, pemenang dan sang kuat yang tak terkalahkan..

dengan gagah berani datang mengobrak-abrik sarang semut, menginjak-injak penduduknya, dan memusnahkan tak bersisa..

dengan angkuh sang gajah berujar "siapa yang berani lawan gue lagi??"

mungkin sang gajah mempunyai dua prinsip dalam hidup:
1. gajah selalu benar dalam bertindak
2. bila gajah salah, maka kembali ke point 1

inilah realita dalam kasat mata orang luar,

tapi tidak tau kah kita??

gajah dan semut adalah hewan yang dikaitkan dengan jari jempol dan kelingking pada permainan untuk mengundi siapa yang menang dan kalah sewaktu kita kecil hingga saat ini, bukan?? lantas bila hanya mengandalkan fisik sebagai penilaian siapa yang kuat, pasti dalam permaian "suwit" tersebut, jempol yang diibaratkan dengan gajah akan menang dengan kelingking yang digambarkan sebagai "semut". tapi nyatanya bukan, bukan seperti itu. kelingking lah yang menang bila bertemu jempol.

usut punya usut, aku yang dulu kecil memprotes kesepakatan ini. sudah jelas2 jempol lebih besar dibanding kelingking atau istilahnya gajah lebih kuat dibanding semut.

dengan padat dan singkat seorang teman menjawab, jika semutnya bersatu dengan kelompoknya dan menyerang untuk menggigit gajah, pasti gajahnya jatuh tidak berkutik.

akupun mengangguk tanda membenarkannya.

yaa seperti itulah analogi dalam kasus ini, kasus si semut kecil (pekaes) dengan si gajah (kapeka).


seperti kita tau, bahwa semut adalah jenis hewan berkoloni atau berkelompok, jangankan dalam urusan menuntut hak dan keadilan yang diganggu makhluk lain, dalam urusan kewajiban mencari makan mereka saling bahu membahu bekerja sama dengan berkelompok, bila bertemu satu sama lain saling menyapa, bila ada yang terluka, mereka bergotong royong membawanya ke sarang, ada ikatan hebat yang menyatukan hati semut-semut ini. inilah makhluk yang sebenarnya kuat. kelemahan dan kekecilan tubuhnya tidak menjadikannya mudah untuk ditindas. bila ada yang mengganggunya, mereka akan membuat strategi untuk melawan. mereka kuat dalam barisan. tak terbayangkan bila melawan barisan mereka. jangankan gajah yang adi kuasa, manusiapun takkan sanggup bila menghadapi sekelompok semut yang terbangun mengamuk karena terusik. dan bersama menyerang dalam jumlah besar.. bahkan satu gigitan semut saja tak jarang telah membuat kita marah..

inilah yang mampu dibayangkan pada konflik si partai kecil dengan lembaga besar tersebut.

si kapeka ini, dengan congkak bertindak laksana tindakannya benar telah sesuai hukum, semena-mena dalam bersilat lidah memutar balikan fakta, menggelintir opini massa, inikah kapeka sebenarnya??

menafsirkan pasal sesuai dugaannya, menyita barang tanpa surat perizinannya, membuat strategi yang dikata benar tapi sungguh terlihat kebodohannya.

tapi, si partai kecil suatu saat kan menjelma menjadi sekelompok semut yang akan disegani, gigitannya tidak menyakitkan tapi ditakutkan, keberadaannya menjadi sesuatu yang paling asyik untuk diikuti, kekompakannya dalam barisan, keramahannya dalam persaudaraan, dan kekuatannya dalam ukhuwah ikatan keimanan...

si “semut kecil” yang sabar tertindas, akan terbangun bersama membuat strategi perlawanan, bukan melawan karena balas dendam tapi melawan bila mereka kembali menerima serangan, melawan menuntut keadilan dan hak yang didzolimkan, melawan untuk menghadirkan kebenaran dalam tuduhan.


suatu hari kelak kebenaran akan terkuak..

si “semut kecil” akan menjadi sesuatu yang membawa pengaruh besar. namanya akan digoreskan dalam catatan sejarah..
seperti nama semut yang tertulis dalam Al-Qur`an yang dijadikan pelajaran..
è “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari" (QS. An Naml : 18)

si “semut kecil” akan menjadi sesuatu yang disayangi dan dilindungi.
seperti Allah menetapkan hewan semut sebagai hewan yang tidak boleh dibunuh...
è “ Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah melarang kami membunuh empat macam binatang: Semut, lebah, burung hudhud dan burung shurad.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).


teruslah bergerak walau ujian ini berat,
berat ujian menandakan Allah menguji untuk mengangkat kedudukan atau bahkan untuk menegur karena kasih sayang-Nya pada hamba-Nya agar mereka kan selalu dalam jalan yang benar hingga kebenaran mencapai hari kepastian..

salam cinta, kerja, dan harmoni ^^

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan pesan dan sarannya... ^^