Pada suatu pagi hari yang cerah, ada dua pemuda yang telah lama
bersahabat yang telah lama tidak bertemu, mereka saling bertegur sapa melepas
rindu. Satu sahabat diberi kesempatan bertanya sepuasnya tentang keadaan
sahabat yang satunya lagi terlebih dahulu. Setelah dirasa puas, giliran sahabat
yang satu bertanya keadaan sahabatnya dengan bijak:
”Sahabat, apa kabarmu hari ini?? Sudahkah kamu makan dengan makanan yang lezat atau bahkan tidak lezat sehingga kamu sisakan dengan sia-sia??
Sahabat, bagaimana
kabar finansialmu hari ini? Barang koleksi apalagi yang kamu beli secara
percuma??
Sahabat,
apa kabar imanmu hari ini?? Apakah tidurmu semalam tidak menyenangkan di kasur
yang empuk lagi menentramkan??
Sahabat,
bagaimana kabar taqwamu hari ini? Apakah hari ini kamu memakai pakaian yang
indah walaupun mungkin kamu tak menyukainya?”
Sang
sahabat yang bijak ini sengaja memberi pertanyaan bertubi tanpa jeda. Melihat
sahabatnya tersentak diam tanda tak mengerti antara emosi dan sabar memandang
heran ke sahabatnya itu, sahabat yang bijak itu membalas dengan tersenyum dan
menepuk pundak sahabatnya dan berkata: “Aku hanya ingin mencapai cita-cita dan
harapan kita, bukankah kita sama-sama ingin bersahabat dan bersaudara bukan
hanya di dunia ini?”
Tak
berapa lama menyerapi kata-kata dari sahabatnya yang bijak dan mengerti
maksudnya, sahabat yang satunya meraih dan merangkul sahabat yang bijak
tersebut dan berbisik pelan: “Alhamdulillah, aku telah bersedekah pagi ini.”
Begitulah kisah dua pemuda yang
bersahabat dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Mereka telah mempunyai
harapan tidak hanya di dunia ini saling bersahabat tapi kelak di syurga Allah
nanti mereka dapat bertemu kembali dan melanjutkan tali persahabat.
Sahabatku yang dirahmati Allah, dari
sepenggal karangan kisah diatas ada hikmah yang ingin disampaikan, walau
mungkin secara pandangan besar hikmah yang didapat adalah saling mengingatkan
dalam kebaikan tetapi garis hikmah yang ingin dibahas kali ini adalah tentang isi yang tersirat dari pertanyaan seorang
sahabat yang bijak kepada sahabatnya yang satu lagi. Masih ingatkah sahabat
tentang pertanyaannya? Yaa,, pertanyaan
yang jika dibaca keseluruhan dan dilontarkan kepada orang yang kurang tepat akan
menyulutkan emosi. Namun, pertanyaan yang dibungkus dengan perpaduan kata apik
yang sedikit bermaksud menyindir dan bertubi tanpa jeda adalah antisipasi atau
strategi sahabat yang bijak yang ingin menanyakan ibadah sahabatnya di pagi
itu. Tapi lagi-lagi bukan ini yang ingin ditekan atau dipelajari lebih dalam,
karena setiap strategi dakwah setiap orang dan kepada orang yang dituju berbeda-beda
tergantung situasi dan kondisi. Hal ini mengakibatkan bagaimana para pendakwah
dituntut cerdas dalam segala hal, melihat kondisi medan terjang juga keadaan
dan pengetahuan dari responder.
Sahabatku dari pertanyaan sang
sahabat bijak ditambah penjelasan maksud pertanyaannya, sahabat yang satu
langsung merangkul dan berbisik “Alhamdulillah, aku telah bersedekah”. Dari
untaian kronologi pertanyaan dan pernyataan kisah tersebut adalah sang sahabat
ingin bertanya sudahkah sahabatnya melakukan amalan baik pagi hari itu sehingga
cita-cita mereka untuk bersama hingga di syurga tewujud. Ya, amalan baik yang
dimaksud adalah SHADAQOH.
Sebagai bahan renungan, ketika
kita dihadapkan pada hidangan yang banyak dan lezat atau bahkan tidak lezat,
apa kita tau bahwa dibelahan bumi sana atau bahkan tetangga samping rumah kita
sedang kelaparan dan tidak ada sebutir nasipun yang didapat? Ketika kita asyik
berbelanja, membeli dan memuaskan hasrat konsumtif kita secara berlebihan,
padahal banyak dari kita yang hidup jauh dari kesederhanaan. Atau sadarkah kita
tidak semua orang mampu menggonta ganti pakaian sesuai yang diinginkan secara
gampang, karena pakaian yang dimiliki hanya apa yang saat ini dia kenakan?
Manusia diciptakan dalam keadaan
dan bentuk berbeda. Karena Allah ingin melihat siapa hamba-Nya yang taat dan
bertakwa, hamba yang saling berlomba dalam kebaikan dan takwa, menyeru ke jalan
yang lurus dengan hikmah dan bijaksana. Inilah maksud agar sesama makhluk
saling berbagi dan memberi. Sedekah adalah amalan baik yang selalu dianjurkan
oleh Nabi Muhammad SAW. banyak hadits
yang menggambarkan betapa Rasulullah sangat menyuruh untuk bersedekah.
“Sahabat Jabir ra telah berkata: Pada suatu
hari kami berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang
tidak berpakaian layak dan kelihatan kotor, serta menenteng senjata. Kebanyakan
mereka dari Bani Mudhar, bahkan boleh dikata seluruhnya dari Bani Mudhar. Wajah
Rasulullah kelihatan sangat prihatin menyaksikan penderitaan dan kefakiran yang
menimpa orang-orang tersebut. Lalu Rasulullah saw keluar, dan memerintahkan
kepada Bilal untuk mengumandangkan azan. Se-saat kemudian shalat pun didirikan.
Setelah selesai, lalu Rasulullah menyampaikan khutbah: "Wahai umat
manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang
diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya. Dan dari pada keduanya Allah
rnemperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan-bertaqwalah
kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga
dan mengawasi kamu. Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat)." Mendengar khutbah Rasulullah, banyak di antara para
sahabat yang kemudian memberikan sedekah. Ada yang memberikan uang dirham dan
dinarnya, ada yang bersedekah baju, gandum, kurma, bahkan ada yang memberikan
sedekah separo buah kurma, dan ada seorang sahabat Anshar yang membawa satu
karung bahan makan hingga dia tidak kuat mengangkat. Dan akhirnya banyak
berdatangan orang yang memberikan sedekah untuk membantu penderitaan kawannya
dari Bani Mudhar, sehingga Rasulullah merasa kewalahan. Lalu Rasulullah saw
bersabda: "Barangsiapa membuat sunah hasanah (perilaku yang baik) di dalam
Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang
mengikuti jejaknya tanpa hams mengu-rangi pahala mereka sedikitpun. Dan
barangsiapa membuat sunah sayiah (perilaku yang jelek) di dalam Islam, maka dia
akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa
hams mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR. Muslim dan Nasai).”
Dari Abu hurairah ra.
ia berkata ; ada seseorang yang datang kepada nabi saw dan bertanya;wahai
rasulullah sedekah apakah yang paling besar pahalanya ? beliau menjawab
bersedekahlah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih
ingin kaya, dan jangankah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah
sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata;untuk si fulan sekian dan
untuk si fulan sekian,padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli
warisnya) (HR Bukhari dan muslim)
Dari abu hurairah ra , ia
berkata ; Rasulullah saw bersabda" wahai kaum muslimah, janganlah
sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada
tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing (Hr Bukhari dan
muslim)
Dari ibnu umar ra; ia
berkata ketika rasulullah saw berada di atas mimbar, beliau bebicara tentang
sedekah, dan menjaga diri dari meminta-minta, beliau bersabda; tangan yang di
atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah; tangan di atas adalah yang
memberi sedangkan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta (HR
Bukhari dan Muslim )
Betapa Rasulullah sangat menekankan pentingnya sedekah. Sebab dengan
sedekah, mampu menghadirkan ikatan yang erat antara pemberi dan penerima.
Saling mendapatkan manfaat, di dalam harta orang kaya ada hak fakir miskin,
sehingga dengannya harta tersebut menjadi suci dan bersih dan yang menerima
dapat dibantu dan merasakan sebagian harta orang kaya. Bahkan keutamaan sedekah
ini juga dianjurkan dalam firman Allah.
“Tidak ada kebaikan
pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang
menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan
perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena
mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar.”(QS. 4:114)
“Sesungguhnya
orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan
kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya)
kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. 57:18)
Sahabat, mungkin
yang jadi pertanyaan selanjutnya. Bukankah Allah menciptakan manusia
berbeda-beda, ada yang kaya dan ada yang miskin untuk mengetahui mana hamba-Nya
yang taat dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya. Lalu dimanakah
kesempatan hamba Allah yang kurang mampu untuk beramal baik dengan sedekah?
Dari abu musa ra. dari
nabi saw, beliau bersabda ; "setiap orang islam itu wajib
bersedekah."Salah seorang sahabat bertanya; Bagaimana jika ia tidak
mempunya apa- apa beliau menjawab; "hendaklah ia berbuat
dengan kedua tangannya sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan
dapat pula untik disedekahkan " ia bertanya ; "Bagaimana seandanya ia
tidak mampu untuk berbuat seperti itu ? beliau menjawab hendaklah ia membantu
orang yang sangat membutuhkan bantuannya " ia bertanya lagi bagaimana
seandainya ia tidak mampu memberi bantuan ? beliau menjawab; hendaklah menyuruh
orang untuk berbuat baik; bagaimana seandainya ia juga tidak mampu berbuat
seperti itu ?; hendaklah ia mencegah dirinya dari perbuatan keji, karena
mencegah dirinya dari perbuatan keji termasuk sedekah (HR Muslim)
Abu
Dzarr Ra berkata bahwa beberapa sahabat Rasulullah Saw berkata, "Ya
Rasulullah, orang-orang yang banyak hartanya memperoleh lebih banyak pahala.
Mereka shalat sebagaimana kami shalat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa
dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka." Nabi Saw lalu
berkata, "Bukankah Allah telah memberimu apa yang dapat kamu sedekahkan?
Tiap-tiap ucapan tasbih adalah sodaqoh, takbir sodaqoh, tahmid sodaqoh, tahlil
sodaqoh, amar makruf sodaqoh, nahi mungkar sodaqoh, bersenggama dengan isteri
pun sodaqoh." Para sahabat lalu bertanya, "Apakah melampiaskan
syahwat mendapat pahala?" Nabi menjawab, "Tidakkah kamu mengerti
bahwa kalau dilampiaskannya di tempat yang haram bukankah itu berdosa? Begitu
pula kalau syahwat diletakkan di tempat halal, maka dia memperoleh pahala. (HR.
Muslim)
Kita juga sering mendengar bahwa
senyuman kita juga termasuk ibadah.
Tiap-tiap
amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf
ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu
untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad)
Demikianlah
sahabat, untaian sedikit hikmah yang ingin dapat tersampaikan. Segala hal bisa
menjadi pelajaran baik tersirat maupun tersurat.
Nah,
sahabatku yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah, sudahkah kalian
sedekah hari ini??
Jika belum,
mudah kuq.... yuk tersenyum kepada
sahabat-sahabat dan saudara-saudara kita yang lain... mari senyummm ^_^
.jpg)