Kita sebagai sebongkah tubuh yang tercipta secara sempurna melalui proses kehidupan yang luar biasa di alam rahim sudah pastinya mendapatkan tugas yang Allah tetapkan pada makhluknya yang bernama “Al-Insan” atau yang berarti manusia ini,
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS.23:12-14)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”(QS.16:78)
Sungguh begitu sempurnanya Allah menciptakan manusia dibanding makhluk Allah yang lainnya, Allah memberikan manusia bekal dengan ilmu agar dapat berpikir. Namun banyak diantara manusia yang berpaling dan tidak bersyukur, tidak mengakui keberadaan Allah, dan menjadikan ciptaan-Nya sebagai tandingan-Nya. Padahal kita telah mengakui “Allahu Rabbunaa” Allah-lah Tuhan kami, yaa kita mengakuinya sewaktu tubuh ini masih dalam kehangatan dalam sebuah tempat yang kokoh bernama rahim dan tak takutkah jika hal ini diminta pertanggunghawabannya??
”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".(QS.7:172)
Subhanallah sekarang tak inginkah kita menjadi hamba-hamba yang bersyukur? Dan mengaplikasikan kesaksiaan kita dengan amal ibadah? Atau inginkah kita diadili dengan hanya membawa kesaksian palsu? Ingat sobat,, semua akan diminta pertanggungjawabannya. Kita diciptakan dengan akal pikiran untuk menjadi hamba Allah yang beriman dan beramal shaleh dengan beribadah dan berakhlak shaleh. Nah mungkin yang menjadi pertanyaan kita, ibadah dan akhlak, mana yang lebih dahulu? Apakah akhlak membentuk ibadah atau ibadah yang membentuk akhlak? Allah berfirman:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS.29:45)
Dari firman Allah di atas, menunjukkan bahwa ibadahlah dapat membentuk akhlak yang baik, dengan shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Namun, pertanyaan yang kembali timbul adalah sering dijumpai orang yang ibadah bagus tapi akhlaknya buruk. Atau orang yang berakhlak baik tapi ibadahnya tak ada.
Ibadah baik yang tidak bisa mencegah perbuatan buruk haruslah ditelusuri dimana letak kesalahan ibadah yang telah dijalankannya. Sungguh setiap janji Allah adalah benar tapi ketika dijumpai ketidak selarasan dengan yang ada maka kembalilah kesalahan ada di manusia itu sendiri dalam beribadah.
Ibadah yang dijalankan haruslah berdasarkan niat dan ilmu yang benar serta keikhlasan. Niat dan keikhalasan dalam beribadah adalah semata-mata karena Allah swt. karena menjalankan kewajiban dan menjadikannya sebagai kebutuhan kita sebagai makhluk-Nya yang haus akan keridhoan Allah swt. semata. Keikhlasan dalam beribadah merupakan penegasan atas kemurnian atas keesaan Allah swt. dan penolakan terhadap segala bentuk kemusyrikan atau noda syirik sekecil apapun. Dalam hal ini, sikap pengesaan dan kepasrahan hanya kepada Allah dibangun dari seluruh sikap, baik dari segi keyakinan hati, ucapan, juga pelaksanaan setiap ibadah. Keikhlasan dalam beribadah memiliki makna tauhid, yakni pengesaan Allah swt. dalam berbagai aspek kehidupan. Disinilah permasalahannya, ibadah yang dilakukan secara ikhlas sungguh sangatlah sulit dan berat, kita harus ikhlas dari awal (sebelum berbuat/niat), ikhlas disaat melakukan ibadah tersebut (menjaga dan terhindar dari sifat riya), dan ikhlas setelah melakukannya (tidak menyebut-nyebutkannya kembali dengan maksud ingin dipuji dan tidak menghitung-hitungnya, karena ibadah yang kita lakukan tak sebanding dengan nikmat yang Allah berikan).
Hadits Nabi Muhammad saw. menyatakan sebagai berikut:
“Sesungguhnya segala amal itu, tergantung dengan niat”.(HR.Bukhari dan Muslim)
Setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, termasuk mulut, tangan, dan kaki, akan mendapatkan hasil berdasarkan niatnya. Niat ikhlas merupakan syarat diterimanya suatu amal ibadah, sedangkan amal perbuatan yang tidak ikhlas akan menjadi sia-sia. Hadits Nabi Muhammad saw. menyatakan sebagai berikut:
“Allah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan karena untuk mencari keridhaan Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Selain itu, ilmu juga penting dalam beribadah. Ibadah tanpa ilmu tidak diterima, dan ilmu tanpa ibadah adalah sia-sia. Setiap ibadah yang kita lakukan telah ditentukan tata cara dan memiliki aturan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal ini hanya dapat diketahui dengan ilmu dalam beribadah. Ibadah tanpa ilmu sangatlah berbahaya. Karena kita pun dilarang menambah-nambahkan dalam sesuatu ketetapan dan ibadah tanpa dalil yang jelas.
Seseorang yang telah aktif menjalankan dan memegang komitmen yang teguh terhadap syariat Islam akan bersikap sungguh-sungguh dalam beramal untuk mendapatkan ridha Allah (mardhatillah). Hanya amal ibadah yang didasari dengan mencari keridhaan Allah semata yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak, yang nantinya dapat membentuk akhlak yang baik (akhlakulkarimah).
Jika ada orang yang akhlaknya baik namun ibadahnya buruk, itupun jadi masalah karena manusia dicipatakan Allah adalah untuk beribadah.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. 51:56)
Kita sebagai manusia memiliki hubungan yang vertikal kepada Allah (dalam bentuk ibadah) dan horizontal dengan sesama makhluk (dalam berinteraksi dengan makhluk Allah yang lain/akhlak) yang kedua hubungan tersebut harus dijalankan dan dimilki secara baik dan bagus.
Wallahu ‘alam bisshowab...
Demikianlah uraian tentang hubungan ibadah dan akhlak. Mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan. Apabila ada kekhilafan dalam penulisan mohon diluruskan.
jazakumullah khairan katsiran....... :) :) :)
